Lhokseumawe - Forum Sepak Bola Generasi Indonesia (Forsgi) Aceh terus memperkuat pembinaan sepak bola usia dini melalui Festival Forsgi Aceh dan seleksi pemain kategori U-12 yang digelar di Lapangan Sepak Bola Waduk Jeulikat, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe, Sabtu (30/5). Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi pesepak bola muda untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya sekaligus membuka peluang menembus seleksi menuju ajang nasional.
Festival ini diikuti oleh tim U-12 dari empat daerah, yakni Kota Banda Aceh, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Bener Meriah, dan Kabupaten Aceh Tengah. Selain menjadi ajang kompetisi yang sehat dan edukatif, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari proses pencarian pemain-pemain potensial yang akan dipersiapkan untuk menghadapi Piala Forsgi 2026.
Dewan Kehormatan Forsgi, Tgk. H. Marlin, menegaskan festival sepak bola usia dini tidak semata-mata berorientasi pada hasil pertandingan, melainkan menjadi sarana membentuk karakter, mental bertanding, dan akhlak generasi muda. Menurutnya, nilai-nilai sportivitas harus ditanamkan sejak dini agar para pemain tumbuh menjadi atlet yang berprestasi sekaligus berkepribadian baik.
“Anak-anak harus bermain dengan gembira, aman, dan menjunjung tinggi sportivitas. Menang atau kalah bukan tujuan utama, melainkan bagaimana mereka belajar disiplin, kerja sama, serta memiliki akhlak yang baik melalui sepak bola. Dari lapangan inilah mereka belajar menghargai teman, menghormati pelatih, dan membangun mental pantang menyerah,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Forsgi Aceh, Eko Hadi Susilo, menjelaskan Festival Forsgi merupakan bagian dari sistem pembinaan berjenjang yang dijalankan secara konsisten untuk melahirkan pemain-pemain muda berbakat dari berbagai daerah di Aceh. Ia mengatakan, seluruh peserta mendapatkan kesempatan yang sama untuk menunjukkan kualitas permainan, baik dari sisi teknik, taktik, maupun karakter.
“Festival ini kami selenggarakan untuk menemukan talenta-talenta muda yang tidak hanya memiliki kemampuan teknik yang baik, tetapi juga disiplin, memiliki semangat belajar, serta mampu bekerja sama dalam tim. Kami ingin memastikan bahwa pemain yang terpilih nantinya benar-benar siap mengikuti pembinaan lanjutan dan mampu bersaing di tingkat yang lebih tinggi,” jelasnya.
Menurut Eko, proses seleksi tidak hanya berfokus pada kemampuan mencetak gol atau memenangkan pertandingan. Tim pelatih dan tim talent scouting juga melakukan pengamatan terhadap kecerdasan bermain, sikap di dalam maupun di luar lapangan, kedisiplinan, hingga kemampuan beradaptasi dengan strategi permainan.
“Anak-anak yang terpilih nanti akan menjadi bagian dari pembinaan lanjutan Forsgi Aceh. Mereka akan dipersiapkan melalui program latihan yang lebih intensif untuk menuju Piala Forsgi 2026. Kami berharap dari Aceh lahir pemain-pemain muda yang kelak dapat mengharumkan daerah bahkan Indonesia,” katanya.
Pada akhir kompetisi, Forsgi Kota Banda Aceh berhasil keluar sebagai juara pertama kategori U-12 setelah menunjukkan performa yang konsisten sepanjang turnamen.
Ketua Forsgi Kota Banda Aceh, Abdul Aziz, menyampaikan rasa syukur atas pencapaian para pemainnya. Ia menilai keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan serta kerja keras para pemain, pelatih, dan orang tua.
“Alhamdulillah, hasil ini merupakan buah dari proses latihan dan pembinaan yang berkelanjutan. Kami berharap anak-anak tidak cepat puas, tetap rendah hati, terus meningkatkan kemampuan, menjaga sportivitas, serta menanamkan karakter luhur dalam setiap pertandingan. Prestasi ini bukan akhir perjalanan, melainkan motivasi untuk terus belajar dan berkembang menjadi pesepak bola yang berakhlak dan berprestasi,” ujarnya.
Komentar (1)